Langsung ke konten utama

Cerpen 2: Pelukis Dengan Cat Merah

 Hal yang penting yang kau lupakan adalah akhir bagimu-'

Hebat, bagaimana bisa lukisan ini sangat hebat.

Lukisan di depanku ini sangat ingin ku miliki. 

Hey, bukan apa apa, aku hanya mengaguminya. Ku putuskan untuk menemui pelukisnya

"Hai! Lukisan mu sangat indah, aku suka dan aku ingin memilikinyaa"

Pelukis itu melihat ku, dan berkata "aaah, banyak sekali orang orang yang datang kepadaku untuk mengatakan hal yang sama. Maaf, aku tak menjualnya."

"Huft, berapapun harganya aku ingin membelinya!!" Kesalku

"Bagaimana jika gantinya kau menjadi inspirasi untuk lukisanku berikutnya?" Katanya mulai membalikkan badannya

"Inspirasi? Apa maksudmu?"

"Aah, maksudku, bisakah kau menjadi sumber untuk lukisan ku? Aku kehabisan cat untuk lukisan selanjutnya"

"Maksudmu aku yg membelikan cat nya? Oke asalkan aku dapat satu lukisan mu" 

Dia bergumam sambil melangkah pergi "yah, kalau kau masih bisa pergi"

Aku bingung. sesaat sebelum mengikutinya aku menyadari sesuatu, aku kabur. Lalu aku mendengar ia berkata "baik sekali, kau pintar. Aku kehilangan cat merahku lagi kan"

.

.

.

_________________

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen 1: Mawar darah.

 Mawar memang indah, terlebih dengan durinya-` Suatu hari, lahirlah seorang putri cantik. Ia memiliki mata seindah mawar, rambut sehitam rembulan dan bibir semanis gula. Masyarakat menyebutnya 'putri mawar' Namun tak seperti julukannya, ia berdiri di kekaisaran, dengan singgasana penuh darah. Ia menjadi ratu, dan mengubah peraturan. "Bunga mawar penuh arti, maka aku menyukai bunga mawar putih, kalian juga punya mawar kesukaan kalian sendiri bukan? Datanglah dengan setangkai bunga mawar, dan aku akan mengabulkan nya" Hanya itu, yang ia sampaikan kepada rakyat rakyat nya. Setelah hari itu, rakyat berbondong bondong masuk ke istana, menggengam satu tangkai mawar. Tapi tidak ada yang dikabulkan oleng ratu. Seorang pemuda memberanikan diri. Ia memetik satu tangkai bunga mawar liar, sampai sampai tangannya berdarah karna durinya Ia menghadap ratu Sang ratu melihat tangannya, dan tersenyum. "Banyak sekali orang orang yang menemuiku, tapi tidak ada yang semiskin dirimu. ...